IMPOTENSI DALAM LEADERSHIP ENGINEERING

24 Oct 2016

Hari-hari terakhir ini kita disuguhkan oleh perseteruan 2 buah kubu, yang mempertentangkan apa yang diposting oleh Mr.X ke medsos yang kemudian menjadi vural, padalah kejadiannya sudah seminggu sebelumnya dan baru menjadi heboh sete;ah postingan Mr.X tadi. Alhamdulillah yang demo hanya dari 1 kubu saja dan tidak terjadi gesekan horisontal karena kubu yang satu lagi tak terfikir untuk membuat tandingannya.

Luarbiasa demo kali ini yang dilakukan oleh masyarakat d kota-kota besar, sehabis sholat Jumat minggu lalu, postingan foto-foto pun dishare di wall-wall medsos yang menunjukkan pesan bahwa ini lho yang teriak banyaakkk. Apasih yang mereka demo kan? hanya satu musuh bersama meraka “Ahok menistakan agama Islam” sampai fatwa2 yang mengharamkanpun sampai dikeluarka oleh tokoh mereka, You know Lahh, terakhir MUI pun mengeluarkan surat…Luarbiasa…..Luarbiasa….Luarbiasa potensi umat ini, Luarbiasa yang memggerakkan kerumunan-kerumunan kecil menjadi kerumunan besar.

Jika saja Ahok bukan siapa-siapa? Apakah akan ada kejadian ini? Saya rasa tidak. Ahok belajar menjadi pemimpin publik sejak dia mejadi BUPATI di Belitung yang memiliki komposisi keberagamaan, penduduk Kabupaten Belitung didominasi oIeh pemeluk agama Islam yaitu sebesar 91,61%, dan pemeluk agama Iainnya adalah Budha sebanyak 6,37%, Protestan 1,02%; Katholik 0,55% dan Hindu 0,45%. Kemudian belajar menjadi Anggota Dewan kemudian belajar menjadi Wakil Gubernur lalu kemudian menjadi Gubernur. Saat ini Ahok suka atau tidak suka, dia adalah Gubernur Jakarta. Apakah di Belitung boleh menjadi pemimpin tapi TIDAK di Jakarta?

Adalagi yang menulis disalah satu media online yang mengatakan akan terjadi siklus 100 tahun akan muncul pemimpin kaum muslimin yang akan memimpin dan perhitungannya jatuh di 2024 jadi masih 8 tahun lagi. Y udah kita tunggu aja. Sekarang ngapain? ya Nunggu.

Ada salah satu Parpol yang ikut  Pemilu dari 1999, ternyata tidak bertahan sampai jari ini, hilang ditinggal pemilihnya. Bagaimana bisa parpol yang 100% muslim pengurusnya justru malah hilang dinegeri yang mayoritas muslim ini. Ada juga yang masih bertahan sampai saat ini dengan gagah dan tampaknya sedang mendapat badai masalah, banyak sekali “blunder insider” yang justru kontra produktif, akan tetapi kabarnya saat ini mereka sedang terindikasi penggembosan struktural, wallahu alam.

 ”Jika apa pun yang terjadi akan membuat Anda hancur dan kalah, lalu Anda mulai menyalahkan orang lain? Well, Anda jelas tak mampu menjalankan tugas ini,” ucap Obama. menyikapi pernyataan Donald Trump yang tidak akan mengakui hasil pemilu jika dirinya kalah.

Rakyat Jakarta dan Rakyat Amerika akan mengalami sebuah peristiwa yang sama, dengan proses yang hampir sama-horizontal crisis.

Quote dari Obama ingin menunjukkan sebuah kualitas sangat menentukan sebuah proses dan keberhasilan untuk menjadi pemimpin, bukan menyalahkan aturan yang disepakati bersama kemudian menggugat aturan tersebut.

Judul diatas “IMOPOTENSI MEREKAYASA LEADER”, bahwa sudah menjadi pemandangan bahwasanya selalu terjadi kekalapan dalam memilih pemimpin dari para parpol yang ada. Tidak adanya figure nasional maupun lokal yang sengaja di”REKAYASA”. REKAYASA dalam arti positif adalah mencari calon pemimpin yang memiliki kualitas leadership kemudia ditugaskan menjadi calon pimpinan dengan membekalinya dengan ilmu2 yang bisa menjadi bekal dalam saat nya memimpin. Pimpinan Kekuasaan Nasional sepertinya sudah menjadi HAK nya pimpinan PARPOL, entah dia berbakat, bisa atau tidak itu urusan belakangan. Pimpinan kekuasaan lokal ya menjadi HAK nya Parpol Daerah/Cabang begitu seterusnya dan dilakukan oleh semua parpol yang saya tahu sampai saat ini.

Kekuasaan membutuhkan power dan power yang dibutuhkan tidak akan datang dengan serta merta saat kita membutuhkan, dan saat ini mereka yang memburu kekuasaan masih IMPOTEN untuk memberikan pimpinan alternatif yang diterima oleh masyarakat secara luas. Pemimpin yang memiliki Integritas (Amanah, Cerdas, Pembela Kebenaran, Mampu berkomunikasi dengan baik). Integritas yang dimaksud adalah Integritas secara luas bukan untuk kalangan sendiri. Rekam Jejak yang bisa diakses secara nyata, sebagai leader (Pejabat Publik bukan organisasi internal).

Horizontal Crisis yang terjadi di DKI saat ini karena tidak adanya TOKOH yang MAMPU dan TERBUKTI PERNAH sukses sebagai Pejabat PUBLIK selain sosok Petahana. Sebagai Bupati Belitung yang sukses dan wakilnya juga sebagai wakil bupati. Mereka pernah menjadi pejabat publik didaerahnya masing-masing dan tahu sekali bagaimana menghadapi publik yang beragam kepentingan dari mulai mafia sampah, mafia tanah, pengemis, pemulung sampai komisaris perusahaan. Dan karena ketiadaan profil leader yang mampu mengimbangi profil petahana maka terlihat sekali pemaksaan ide yang beragam cara dilakukan dalam berikhtiar. Menaikkan dan “menggoreng” citra negatif lawan, tidak mengakui pencapaian lawan, adalah hal yang menjadi peluru untuk membuat efek penghancuran karakter, segala cara digunakan dan alasan pembenaran pun dilegalkan, digerakkan secara massif dan terus menerus. Media Sosial akan menangguk keuntungan besar dari hal ini, keuntungan bukan didapatkan oleh mereka yang bertarung tetapi oleh media sosial yang di miliki oleh para konglomerat.

Tenaga dan fikiran terbuang bukan oleh sebuah olah konstruktif membangun kembali ke IMPOTEN an menyembuhkan mencari jalan terbaik untuk kebangsaan secara luas dan kemanusiaan untuk membangun merekayas dengan program mencetak Leader yang mumpuni dalam karakter yang empat tadi. 

 

Kita telah melalui 17 tahun masa multi partai tetapi sampai saat ini dan masih juga kesulitan mencari seorang LEADER. Rekayasa bukan berarti melakukan cara-cara tak baik, proses rekayasa yang biasa dilakukan di engineering untuk menciptakan sesuatu dibuat untuk kemashlahatan sosial dalam menciptakan seorang Leader.

Jika sekarang ini, saat ini tidak ada elemen2 bangsa bagi yang melakukan Leadership Engineering, maka menjadi kewajiban bagi siapa saja yang melakukannya. Lepaskan Kaca Mata Kuda dan shallow vision jadilah Leader yang mebawa kedamaian bagi seluruh alam, bersikap adil bukan saja untuk golongannya tapi untuk seluruh alam Indonesia. Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta, Keadilan sosial bagi seluruh sakyat Jawa Barat dll.

Apakah adil orang-orang yang bekerja keras suami-istri demi untuk mendapatkan sedikit rejeki yang halal untuk rumah sederhana bersubsidi type 21 yang jauh dari tempat kerjanya dengan harus berdesakan di commmuterline/transjakarta dengan orang-orang yang entah datang darimana atau tanah warisannya sudah habis kemudian mengontrak atau kemudian mendirikan rumah ditengah kota dipinggiran rel atau bantaran sungai yang kalau kerja tinggal jalan kaki.

 


TAGS DKI Memilih DKI 1 Leader Leadership Gubernur


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post